Cek Kesehatan Pascapersalinan Normal? Perlu Loh!0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 22 Jan 2011 at 8:41am
cek kesehatan

cek kesehatan

SETELAH melahirkan normal bukan berarti Moms tidak kembali lagi ke dokter obgin. Karena, pascapersalinan normal pun bisa mendatangkan banyak keluhan. Kapan dan bagaimana prosedurnya, yuk ikuti ulasan berikut!

Apa Saja yang Diperiksa?

“Cek kesehatan pascapersalinan normal adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat kondisi Moms setelah persalinan,” buka dr Arju Anita, SpOG dari Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Depok.

Dokter akan mengevaluasi (membandingkan) kondisi dari hamil, melahirkan hingga pascamelahirkan. Pemeriksaannya berupa:

1. Mengevaluasi kondisi Moms setelah proses persalinan

Dengan menanyakan masalah air susu ibu (ASI), BAK, BAB, kondisi rahim, vagina, darah nifas dan keadaan perineum (daerah antara vagina dan dubur) – biasanya terjadi robekan saat persalinan.

2. Membahas masalah yang timbul saat persalinan dan untuk mencegah kemungkinan berulang lagi saat persalinan selanjutnya

Contoh, seorang ibu yang sedang hamil anak pertama pada saat proses persalinan mengalami kesulitan untuk mengejan, kesalahan posisi atau sikap tubuh. Pada saat kontrol pascapersalinan dokter akan memberikan masukan agar kejadian yang lalu tidak berulang kembali pada persalinan selanjutnya.

3. Menilai dan mengevaluasi penyakit penyerta yang mungkin timbul saat kehamilan dan persalinan agar tidak terulang pada kehamilan dan persalinan selanjutnya.

Misal, penyakit diabetes karena proses kehamilan yang mengakibatkan berat bayi besar saat lahir atau timbulnya wasir (ambeien) karena proses kehamilan dan persalinan.

Kapan Dilakukan?

Sebaiknya pascamelahirkan normal kontrol ke dokter kandungan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu:

1. Satu Minggu Pascapersalinan

Pemeriksaan berpusat pada daerah sekitar perut (rahim) dan perineum. Rahim akan diperiksa apakah sudah kembali mengecil atau tidak, bagaimana keadaan luka episiotomy (robekan untuk jalan lahir) apakah sudah kering atau belum.

Dan biasanya dokter juga akan menanyakan apakah ada keluhan lain, seperti:
– BAB tidak lancar. Biasanya disebabkan kurangnya cairan dan serat atau ada perasaan takut untuk BAB karena trauma rasa sakit saat melahirkan dan takut luka jahitannya robek. Dokter akan menganjurkan untuk mengonsumsi air yang cukup minimal 3 L/hari, diet tinggi protein (untuk kesembuhan luka episiotomy dan produksi ASI) serta tinggi serat. Namun jika belum berhasil, dokter akan memberikan obat perangsang BAB melalui anus sehingga tidak memengaruhi ASI.

– Nyeri daerah perineum. Hal ini bisa terjadi karena kurangnya kebersihan di daerah vagina. Jangan takut untuk membilas bersih daerah perineum.

– Darah nifas yang sedikit dan disertai dengan bau. Penyebab utama biasanya karena kurangnya kontraksi rahim, hal ini bisa terjadi pada wanita yang tidak melakukan mobilisasi atau tidak memberikan ASI secara langsung. Hisapan pada puting susu akan merangsang kontraksi rahim sehingga mengecil sampai kembali ke ukuran sebelum hamil.

– Puting susu lecet. Biasa terjadi karena posisi puting yang tidak proporsional terhadap rongga mulut bayi sehingga tergigit.

– ASI yang tidak lancar sehingga menyebabkan payudara bengkak. Ini biasa terjadi pada hampir semua ibu yang baru melahirkan. Payudara terasa lebih penuh/tegang dan nyeri yang muncul pada hari ketiga atau keempat sesudah persalinan merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak di produksi.

Bila tidak dikeluarkan, ASI akan menumpuk pada payudara sehingga puting menjadi lebih datar dan sukar diisap bayi, kulit payudara tampak merah mengkilat, ibu demam dan terasa sangat nyeri. Untuk pencegahan beri bayi ASI sesering mungkin (on demand), keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksinya melebihi kebutuhan bayi. Untuk mengurangi rasa sakit di payudara lakukan kompres dingin dan untuk mengurangi pembengkakan lakukan pengurutan (masase) payudara.

– Kadang ditemukan terjadinya infeksi, dengan tanda -tanda deman dengan suhu >37,5 derajat celsius, diikuti dengan keluhan nyeri di daerah yang bermasalah. Misalnya, perineum, seperti perineum terlihat bengkak, merah serta terasa nyeri dan panas, perih saat buang air kecil, lokia (cairan yang keluar saat nifas) yang berbau tidak sedap dan masih keluar darah banyak.

Untuk mencegah infeksi pada perineum, triknya adalah cuci tangan sebelum mengganti pembalut, selalu bersihkan dari arah vagina ke anus agar bakteri dari anus tidak terbawa ke Miss V, jangan ragu untuk membasuh luka jahitan dan keringkan dengan handuk kering yang bersih, tepuk-tepuk perlahan, dan selalu ganti pembalut setelah BAK atau BAB.

2. 40 hari Pascapersalinan

Biasanya masa nifas sudah selesai dan dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, antara lain:

– Keadaan umum, berat badan ibu biasanya berkurang berkisar 3,5-4 kilogram –  bergantung pada pola makan ibu -, tensi darah sudah kembali normal – kecuali bagi ibu memang sudah menderita hipertensi sejak sebelum kehamilan.

– Pemeriksaan ulang rahim, apakah ukuran rahim telah kembali normal, keadaan perineum, luka episiotomy dan adakah keputihan.

– Menanyakan produksi ASI, apakah lancar atau malah berkurang.

– Konsultasi pemakaian kontrasepsi. Bagi ibu yang tidak menyusui, siklus haid biasanya mulai datang pada 5-8 minggu setelah persalinan. Untuk menghindari kehamilan diskusikan dengan dokter tentang alat kontrasepsi yang paling cocok untuk ibu dan suami. Bagi ibu yang menyusui secara ekslusif, aktivitas ini bisa dijadikan metoda kontrasepsi alami dengan syarat bayi belum berusia 6 bulan, Ibu belum haid, dan bayi menyusu secara ekslusif.

sumber : Mom& Kiddie//ftr okezone

Read Also
Advertisement

Leave a Reply