Enterobacter Saskazakii, Bisa Ada di Mana Saja0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 09 Mar 2011 at 10:01am
Enterobacter saskazakii, bisa ada di mana saja

Enterobacter saskazakii, bisa ada di mana saja

HINGGA saat ini, masyarakat masih dibuat bingung oleh polemik susu formula yang tercemar Enterobacter sakazakii. Tak hanya bingung, tetapi juga takut untuk membeli produk susu formula. Bahkan tak sedikit pula yang sudah menghentikan pemberian susu formula pada bayi.

Pada awalnya, susu formula diberikan kepada bayi sebagai pengganti ASI. Tentunya dengan alasan yang sangat kuat. Misalnya, karena kelenjar susu ibu tidak dapat memproduksi ASI, ASI terlalu sedikit, atau berbagai alasan medis lainnya. Belakangan ini, alasan pemberian susu formula bertambah lagi. Biar lebih praktis. Alasan yang terakhir ini lama-kelamaan menjadi sebuah kebiasaan.

Beberapa hari belakangan ini masyarakat bingung dan resah dengan munculnya kasus susu formula yang tercemar bakteri. Di satu sisi, munculnya polemik ini berdampak positif. Paling tidak, dengan adanya persoalan ini, banyak ibu yang kembali memberikan ASI pada buah hatinya. Namun, di sisi lain, polemik ini tetap menyisakan masalah bagi ibu yang kelenjar susunya tidak dapat memproduksi ASI dan yang produksi ASI-nya sedikit.

Masalah lain adalah beberapa produsen susu formula resah karena omzet penjualan menurun. Bisa jadi beberapa produsen sudah mengalami kerugian.

Sebetulnya, keresahan masyarakat ini adalah hal yang wajar. Ini karena minimnya pengetahuan dan informasi masyarakat tentang latar belakang bakteri dan masalah tercemarnya susu formula itu sendiri.

Bisa tumbuh di mana saja

Apa itu Enterobacter sakazakii? Enterobacter sakazakii juga bisa ditemukan di mana saja. Menurut dr Cahyarini, SpMK, Spesialis Mikrobiologi Klinik dari RS Royal Taruma, Jakarta Barat, bakteri ini bisa ditemukan di tanah, air, tanaman, bagian luar hewan ternak seperti puting sapi dans aluran cerna hewan.

“Bahkan ada beberapa literatur yang menyebutkan bahwa bakteri ini ditemukan di saluran cerna manusia,” jelasnya.

Oleh karena bakteri ini bisa tumbuh di mana saja, sambung dr Cahyarini, tumbuhnya bakteri dalam susu formula sebenarnya bukanlah hal yang sangat mengherankan atau mengejutkan. Apalagi, susu merupakan media tumbuh paling ideal bagi kuman. Jangan kan Enterobacter sakazakii, bakteri lain pun bisa berkembang biak dengan baik dalam susu formula.

Badan kesehatan dunia, WHO, pun sudah menegaskan bahwa susu formula adalah produk yang tidak steril. Maksudnya, bakteri bisa ditemukan di dalamnya.

“Susu merupakan media ideal bagi pertubuhan semua kuman, termasuk bakteri. Berbagai bakteri dapat ditemukan dalam susu bubuk. Selain Enterobacter sakazakii, pernah pula ditemukan Eschericia coli, Enterobacter agglomerans, Enterobacter cloceae, Klebsiella pneumonia, Citrobacter freundii, dan lainnya,” jelasnya.

Perlu diketahui pula bahwa kasus ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan data dari jurnal penelitian, Laboratory of Microbiology, Shcool of Life and Environmental Science, and Laboratory of Microbiology II, School of Veterinary Medicine, Azabu University, Jepang, pada tahun 2009/2010, produk susu formula di negara-negara maju juga tercatat positif mengandung Enterobacter sakazakii. Sebut saja USA. Dalam jurnal disebutkan bahwa dari 10 sampel yang diteliti, dua produk positif dinyatakan mengandung Enterobakter sakazakii.

Apakah Enterobacter sakazakii ini berbahaya? Tergantung. Bakteri ini memiliki sifat oportunistik. Maksudnya, bakteri ini bisa bersifat pathogen, bisa juga nonpatogen.

“Tidak menimbulkan penyakit pada seseorang dengan sistem imun yang baik (immunocompetent). Namun, jika sistem imun kurang baik (immunocompromised) seperti pada bayi baru lahir (neonatus) dan manula (geriatri), bakteri ini dapat menimbulkan penyakit,” katanya.

Pada kondisi dimana sistem imun tidak baik, ada beberapa penyakit yang mungkin muncul. “Pada kondisi di mana sistem imun tidak baik, mungkin bisa menimbulkan penyakit. Dan tidak selalu atau tidak pasti menimbulkan penyakit. Bakteri ini dapat menyebabkan meningitis atau radang pada selaput otak,” jelas dr Cahyarini.

Selain radang pada selaput otak bakteri juga bisa menyebabkan penyakit lain seperti infeksi saluran kemih. Ada juga bakteremia, yaitu adanya bakteri di dalam darah. Adapun gejalanya akan berbeda dan tergantung pada penyakit yang ditimbulkan. Contohnya pada meningitis. Gejala yang khas adalah kejang-kejang pada penderita dan juga terjadi penurunan kesadaran.

Tindakan preventif

Lantas bagaimana harus menyikapinya? Dr Cahyarini mengimbau masyarakat, terutama kaum ibu, agar tidak perlu khawatir dan panik yang berlebihan.

“Saya rasa tidak perlu panik. Kita harus menyikapinya dengan bijaksana. Tenang dan percayakan pada ahlinya (institusi yang berkompeten, Kementrian Kesehatan). Kalau misalnya Kemenkes sudah mengatakan bahwa susu formula tersebut sudah aman, itu artinya sudah aman,” jelasnya.

Tidak mutlak bahwa, sambung dr Cahyarini, dalam setiap susu formula ada Enterobakter sakazakii. Bila pada waktu tertentu bakteri itu di temukan dalam susu formula, belum tentu pada tahun berikutnya atau pada sampel yang sama dengan tanggal produksi yang berbeda akan ditemukan pula bakteri tersebut.

“Artinya apa? Itu (Enterobacter sakazakii) tidak selalu ditemukan dalam susu formula,” tandasnya.

Yang terpenting adalah tindakan pereventif.

“Yang paling penting itu sistem handling-nya. Bagaimana cara penyajiannya pada saat akan memberikan susu formula? Tindakan pencegahan itu, tindakan preventif, yang penting,” tutupnya.

sumber : Genie/Genie/nsa okezone

Read Also
Advertisement

Leave a Reply