Etalase sebagai Focal Point0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 26 Jan 2011 at 12:38pm
etalase

etalase

ETALASE alias tempat display barang ternyata bisa dijadikan sebagai focal point pada sebuah ruangan. Kuncinya, bagaimana Anda berkreasi menatanya. Nah, bagaimana caranya?

”Saat kita menghadirkan etalase sebagai salah satu aksesori dalam interior, saat itu juga sebenarnya kita sudah meletakkan etalase sebagai focal point. Karena bentuk dan fungsi etalase yang notabene sebagai ‘tempat display’,”kata arsitek Briyan Talaosa.

Etalase, salah satu furnitur ini kerap ditemui pada sebuah toko. Lemari kaca ini awalnya berfungsi untuk mendisplay benda-benda. Tujuannya tak lain untuk menarik minat pembeli. Kendati demikian, furnitur yang sering disebut sebagai show case ini juga kerap ditemui di sudut-sudut ruang di dalam rumah. Terutama bagi penghuni rumah yang hobi mengoleksi benda-benda yang terbuat dari kristal atau bagi yang sering menyimpan buah tangan dari perjalanannya keliling dunia.

Menurut Briyan, etalase adalah suatu benda—dalam hal ini furnitur yang dibuat dalam bentuk tertentu—yang berfungsi sebagai tempat display sesuatu. Biasanya juga disebut dengan show case. Pada dasarnya fungsi etalase pada interior dalam bangunan atau hunian tidak hanya mesti diisi dengan aksesori. Malah terkadang orang awam menerjemahkan aksesori sebagai perhiasan. Maksudnya, perhiasan pun bisa disimpan di etalase kalau memang berniat untuk menaruh benda tersebut.

Lantas, langkah-langkah apa yang harus dilakukan dan diperhatikan sebelum menata etalase pada ruang. Pertama, sesuaikan desain etalase dengan tema interior secara keseluruhan.

”Etalase berkaitan dengan desain rumah. Untuk itu, desain yang ada secara keseluruhan adalah sebuah kesatuan, gaya atau tema desain arsitektur atau interior pada hunian adalah sebuah irama. Tentunya bentuk dan detail etalase pun sebaik mengikuti,” tuturnya.

Perhatikan juga luas ruang yang akan diletakkan etalase. Hal tersebut memengaruhi besar kecilnya sebuah etalase. Kemudian Anda dapat memilih materi apa yang akan didisplay di dalam etalase. Tentukan juga ukuran dari etalase tersebut. Caranya dengan menentukan barang yang akan diletakkan pada furnitur tersebut. Misalnya, Briyan menyebutkan, barang koleksi. Tentunya ukuran etalase akan sangat bergantung pada barang koleksi tersebut.

Selain itu, jumlah barang tentu berpengaruh pada dimensi etalase secara keseluruhan. ”Bentuk etalase sebaiknya mengikuti space yang ada pada ruang. Bisa saja full satu sisi dinding, atau bisa juga hanya sebagian (proporsinya seperti konsole atau credensa),” ungkapnya.

Mengenai material yang digunakan untuk pembuat etalase, Briyan mengatakan, bahan dasar atau material etalase bisa dibuat dari bahan apa saja sesuai keinginan penghuni dan atau arahan dari desainer selama masih memperhatikan kaidahkaidah keindahan dan keselarasan dengan tema pada ruang etalase tersebut berada.

”Dari bentuk dan fungsinya sebagai tempat menampung barang yang akan kita display agar terlihat, mutlak etalase pada bagian tertentu menggunakan kaca polos tembus pandang,” ucapnya. Namun, masalah akan muncul ketika si pengguna bingung menentukan mana yang harus ditonjolkan pada etalase. Sebab, etalase tanpa tambahan aksesori sendiri sudah mampu menjadi focal point ruang.

Hal tersebut dibenarkan Briyan. Menurut dia, etalase sendiri hadir sudah sebagai focal point karena merupakan barang khusus di antara barang yang fungsional. Jadi, jika etalase ditambahkan lagi dengan isi dari etalase, maka akan memaksa mata untuk melihat.

Untuk itu, semua aksesori dalam interior sebaiknya bersifat melengkapi dan malah terkadang berfungsi untuk menutupi kekurangan pada bagian lain. Misalnya, permukaan tembok yang kurang rata dapat disamarkan dengan menghadirkan etalase.

Hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah posisi penempatan etalase pada sebuah ruangan. Jangan sampai kehadirannya yang tadinya kita niatkan sebagai focal point malah menjadi sesuatu yang tidak sedap dipandang.

Selain itu, penempatan etalase bisa saja difungsikan sebagai pembatas antara dua ruangan namun beda fungsi. Etalase itu kita hadirkan memiliki dua muka dan dapat dilihat dari kedua ruangan yang dibaginya.

Mengenai warna, komposisi, bentuk atau apa pun yang berkaitan dengan interior dan arsitektur akan sama saat kita mendesain interior di ruangan. Namun, dalam hal ini, karena etalase sebagai elemen dekoratif yang dihadirkan dalam rangka “memaksa” mata kita untuk melihat ke arahnya, dalam keadaan polos tanpa warna pun tetap sah-sah saja.

Asumsinya, jika yang kita tonjolkan adalah warna, maka bentuk tidak perlu ikut menyita perhatian. Namun, berbeda ketika yang akan Anda tonjolkan adalah bentuknya. Maka, warna tidak perlu menjadi hal yang dominan dalam etalase. ”Analogi ini biasa saya terapkan dalam mendesain, jadi tidak saling rebutan menjadi perhatian utama,” sebutnya.

sumber : SINDO//tty okezone

Read Also
Advertisement

Leave a Reply