Geliat Mode Nusantara0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 23 Mar 2011 at 10:48am

mode

JAKARTA adalah pusat mode Indonesia. Namun, mode tak hanya berkembang di Jakarta, industri kreatif yang terus digalakkan pemerintah mendorong lahirnya kota-kota mode di seantero Nusantara.
Tidak bisa dimungkiri, Jakarta adalah barometer gaya hidup di Indonesia, termasuk dalam urusan penampilan. Tren mode dan kecantikan berpusat di Jakarta, begitu juga dengan teknologi terbaru yang terus menawarkan kemudahan bagi kaum urban Ibu Kota. Adapun dalam hal mode, Jakarta Fashion Week dan Jakarta Fashion & Food Festival yang merupakan arahan tren mode utama Tanah Air, menjadi sumber inspirasi bagi pelaku mode di daerah.
Kendati demikian, mode tak hanya berkembang di Jakarta. Kekayaan alam, seni, dan budaya Tanah Air melahirkan talenta-talenta besar dunia mode hingga pelosok dan menciptakan kota-kota mode yang meramaikan belantika mode Indonesia. Terlebih saat industri kreatif terus dikembangkan. Sebut saja Bandung yang muncul sebagai kota dengan banyak talenta kreatif di bidang desain, termasuk mode.
Distribution outlet (distro), clothing company, dan butik-butik kecil yang dikelola kaum muda menjadi penggerak utama di kota kembang. Malah beberapa brand, namanya sukses bergaung tidak hanya secara nasional, juga internasional. Menyeberang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur; Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya muncul sebagai kekuatan mode daerah yang mampu melahirkan perancang-perancang besar. Sebut saja Biyan Wanaatmadja, Anne Avantie, dan Afif Syakur.
Di luar Jawa, mode pun berkembang yang didorong organisasi mode Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Salah satu BPD APPMI yang berkembang pesat adalah Bali, yang terus aktif mengirimkan perancangnya melakukan show, baik catwalk maupun trade show di luar negeri, Hong Kong dan Paris.
“Sejak awal, APPMI didirikan menjadi wadah bagi talenta mode daerah untuk mengembangkan potensi budaya lokal dan membawanya ke dunia mode dan industri yang lebih besar, baik level nasional maupun internasional,” ujar penggagas APPMI Poppy Darsono.
Kini pada usianya yang ke-17 tahun, APPMI berhasil merangkul hampir 200 anggota dari 11 provinsi di Indonesia. Taruna K Kusmayadi, Ketua Umum APPMI, mengatakan, salah satu cara mempromosikan potensi mode daerah adalah melalui pelaksanaan agenda tahunan Fashion Tendance yang dikelola secara langsung oleh Badan Perwakilan Daerah (BPD) APPMI di masingmasing provinsi.
“Dari situ, para desainer bisa mengukur kemampuan dan kemajuan mereka, baik dari sisi rancangan maupun bisnis,” ujar pria yang akrab disapa Nuna tersebut.
Selain itu, Nuna mengatakan bahwa Fashion Tendance juga bisa menjadi sarana “latihan” bagi para desainer APPMI menuju show tunggal.
“Setiap desainer pasti punya mimpi melakukan show tunggal. Nah, Fashion Tendance adalah tempat mereka berlatih. Bagaimana mempersiapkan koleksi, panggung, dan merepresentasikan konsep rancangan mereka di hadapan konsumen, media, juga buyer,” ungkap Nuna.
Salah satu BPD APPMI yang baru saja menggelar Fashion Tendance adalah APPMI Sumatera Barat. Mengambil tema “Chain of Minangkabau”, para pelaku mode di Padang berusaha mempromosikan hasil seni Tanah Minang lewat produk mode. Ketua APPMI Sumatera Barat Ade Listiani mengatakan, di Sumatera Barat banyak sekali sisi yang bisa diangkat.
“Dari sisi seni tekstil, kami punya sulam, bordir, tenun, dan batik dengan ragam hias yang begitu indah. Begitu juga dengan kerajinan tangan dan keindahan alam yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi,” kata Ade, yang baru saja terpilih menggantikan En Shirikie, ketua sebelumnya.
Dari segi usia, APPMI Sumatera Barat memang masih tergolong baru, namun terhitung produktif. Dibentuk pada 2005, APPMI Sumatera Barat sudah tiga kali menggelar Fashion Tendance yang sekaligus menjadi acara show mode terbesar di Padang.
Fomalhout Zamel, Ketua Pelaksana Fashion Tendance “Chain of Minangkabau” mengatakan bahwa pada tahun ke-5, APPMI Sumatera Barat sudah cukup jauh berkembang.
“Dulu kebanyakan konsumen membeli busana di Jakarta, tapi sekarang mereka datang kepada kami untuk konsultasi mengenai busana juga berpindah membeli busana mereka di Padang daripada jauh-jauh pergi ke Jakarta,” tutur Fomal.
Senada dengan Fomal, Ade pun mengatakan bahwa APPMI Sumatera Barat secara bertahap telah menjadi sumber edukasi mode bagi masyarakat Padang.
“Pada awalnya masih sulit menembus masyarakat. Kami berusaha memberikan edukasi melalui talk show di radio dan media lokal. Alhamdulillah, sekarang masyarakat sangat antusias,” ujar Ade.
Dia juga mengatakan, banyak konsumen mode Padang yang berkonsultasi kepada desainer melalui Facebook. Kendati geliat mode daerah mulai terasa, perkembangannya tetap saja tidak semaju di Jakarta. Pengamat mode Muara Bagdja mengatakan bahwa idealnya memang perancang daerah berkinerja dan berkreasi di daerahnya masing-masing.
“Hal itu supaya mode di masing-masing kawasan kita lebih maju dan merata, juga wanita-wanita kita ‘terdandani’ dengan lebih baik. Sayangnya, di daerah, gaya hidupnya berbeda dengan Ibu Kota, jadi modenya tidak berkembang pesat. Bahkan, Bandung yang hanya 2 jam dari Jakarta, tidak ada gaya hidup mode yang dinamis dan semarak,” kata Muara.
Lebih lanjut, Muara menganalogikan perkembangan perancang daerah dan perancang mode dunia seperti musisi.
”Perbandingannya, musisi mau terkenal harus ke New York dulu. Perancang kalau mau dilihat harus muncul dulu di Paris. Jadi, perancang daerah kalau mau dikenal, ya perlu ke Jakarta. Biasanya, setelah di Jakarta, kreasi dan selera berubah mengikuti dinamisme kota besar,” tuturnya.
sumber : Koran SI/Koran SI/ftr okezone

JAKARTA adalah pusat mode Indonesia. Namun, mode tak hanya berkembang di Jakarta, industri kreatif yang terus digalakkan pemerintah mendorong lahirnya kota-kota mode di seantero Nusantara.

Tidak bisa dimungkiri, Jakarta adalah barometer gaya hidup di Indonesia, termasuk dalam urusan penampilan. Tren mode dan kecantikan berpusat di Jakarta, begitu juga dengan teknologi terbaru yang terus menawarkan kemudahan bagi kaum urban Ibu Kota. Adapun dalam hal mode, Jakarta Fashion Week dan Jakarta Fashion & Food Festival yang merupakan arahan tren mode utama Tanah Air, menjadi sumber inspirasi bagi pelaku mode di daerah.

Kendati demikian, mode tak hanya berkembang di Jakarta. Kekayaan alam, seni, dan budaya Tanah Air melahirkan talenta-talenta besar dunia mode hingga pelosok dan menciptakan kota-kota mode yang meramaikan belantika mode Indonesia. Terlebih saat industri kreatif terus dikembangkan. Sebut saja Bandung yang muncul sebagai kota dengan banyak talenta kreatif di bidang desain, termasuk mode.

Distribution outlet (distro), clothing company, dan butik-butik kecil yang dikelola kaum muda menjadi penggerak utama di kota kembang. Malah beberapa brand, namanya sukses bergaung tidak hanya secara nasional, juga internasional. Menyeberang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur; Solo, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya muncul sebagai kekuatan mode daerah yang mampu melahirkan perancang-perancang besar. Sebut saja Biyan Wanaatmadja, Anne Avantie, dan Afif Syakur.

Di luar Jawa, mode pun berkembang yang didorong organisasi mode Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Salah satu BPD APPMI yang berkembang pesat adalah Bali, yang terus aktif mengirimkan perancangnya melakukan show, baik catwalk maupun trade show di luar negeri, Hong Kong dan Paris.

“Sejak awal, APPMI didirikan menjadi wadah bagi talenta mode daerah untuk mengembangkan potensi budaya lokal dan membawanya ke dunia mode dan industri yang lebih besar, baik level nasional maupun internasional,” ujar penggagas APPMI Poppy Darsono.

Kini pada usianya yang ke-17 tahun, APPMI berhasil merangkul hampir 200 anggota dari 11 provinsi di Indonesia. Taruna K Kusmayadi, Ketua Umum APPMI, mengatakan, salah satu cara mempromosikan potensi mode daerah adalah melalui pelaksanaan agenda tahunan Fashion Tendance yang dikelola secara langsung oleh Badan Perwakilan Daerah (BPD) APPMI di masingmasing provinsi.

“Dari situ, para desainer bisa mengukur kemampuan dan kemajuan mereka, baik dari sisi rancangan maupun bisnis,” ujar pria yang akrab disapa Nuna tersebut.

Selain itu, Nuna mengatakan bahwa Fashion Tendance juga bisa menjadi sarana “latihan” bagi para desainer APPMI menuju show tunggal.

“Setiap desainer pasti punya mimpi melakukan show tunggal. Nah, Fashion Tendance adalah tempat mereka berlatih. Bagaimana mempersiapkan koleksi, panggung, dan merepresentasikan konsep rancangan mereka di hadapan konsumen, media, juga buyer,” ungkap Nuna.

Salah satu BPD APPMI yang baru saja menggelar Fashion Tendance adalah APPMI Sumatera Barat. Mengambil tema “Chain of Minangkabau”, para pelaku mode di Padang berusaha mempromosikan hasil seni Tanah Minang lewat produk mode. Ketua APPMI Sumatera Barat Ade Listiani mengatakan, di Sumatera Barat banyak sekali sisi yang bisa diangkat.

“Dari sisi seni tekstil, kami punya sulam, bordir, tenun, dan batik dengan ragam hias yang begitu indah. Begitu juga dengan kerajinan tangan dan keindahan alam yang bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi,” kata Ade, yang baru saja terpilih menggantikan En Shirikie, ketua sebelumnya.

Dari segi usia, APPMI Sumatera Barat memang masih tergolong baru, namun terhitung produktif. Dibentuk pada 2005, APPMI Sumatera Barat sudah tiga kali menggelar Fashion Tendance yang sekaligus menjadi acara show mode terbesar di Padang.

Fomalhout Zamel, Ketua Pelaksana Fashion Tendance “Chain of Minangkabau” mengatakan bahwa pada tahun ke-5, APPMI Sumatera Barat sudah cukup jauh berkembang.

“Dulu kebanyakan konsumen membeli busana di Jakarta, tapi sekarang mereka datang kepada kami untuk konsultasi mengenai busana juga berpindah membeli busana mereka di Padang daripada jauh-jauh pergi ke Jakarta,” tutur Fomal.

Senada dengan Fomal, Ade pun mengatakan bahwa APPMI Sumatera Barat secara bertahap telah menjadi sumber edukasi mode bagi masyarakat Padang.

“Pada awalnya masih sulit menembus masyarakat. Kami berusaha memberikan edukasi melalui talk show di radio dan media lokal. Alhamdulillah, sekarang masyarakat sangat antusias,” ujar Ade.

Dia juga mengatakan, banyak konsumen mode Padang yang berkonsultasi kepada desainer melalui Facebook. Kendati geliat mode daerah mulai terasa, perkembangannya tetap saja tidak semaju di Jakarta. Pengamat mode Muara Bagdja mengatakan bahwa idealnya memang perancang daerah berkinerja dan berkreasi di daerahnya masing-masing.

“Hal itu supaya mode di masing-masing kawasan kita lebih maju dan merata, juga wanita-wanita kita ‘terdandani’ dengan lebih baik. Sayangnya, di daerah, gaya hidupnya berbeda dengan Ibu Kota, jadi modenya tidak berkembang pesat. Bahkan, Bandung yang hanya 2 jam dari Jakarta, tidak ada gaya hidup mode yang dinamis dan semarak,” kata Muara.

Lebih lanjut, Muara menganalogikan perkembangan perancang daerah dan perancang mode dunia seperti musisi.

”Perbandingannya, musisi mau terkenal harus ke New York dulu. Perancang kalau mau dilihat harus muncul dulu di Paris. Jadi, perancang daerah kalau mau dikenal, ya perlu ke Jakarta. Biasanya, setelah di Jakarta, kreasi dan selera berubah mengikuti dinamisme kota besar,” tuturnya.

sumber : Koran SI/Koran SI/ftr okezone

Read Also
Advertisement

Leave a Reply