Cinta Di Balik Selembar Kain Batik0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 02 Oct 2011 at 11:41am
film batik

film batik

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata ‘batik’? Mungkin salah satu jawabannya adalah selembar kain tradisional bermotif yang dibuat menggunakan canting dan malam (lilin). Tapi ternyata ‘batik’ lebih dari itu. Lewat film dokumenter ‘Batik, Our Love Story’, Nia Dinata mencoba mengemas potret batik di beberapa kota lengkap dengan kehidupan para pekerjanya.

Narasi dari Iwet Ramadhan dipadu dengan tembang ‘Jula-Juli Lolipop’ milik kelompok musik hip hop ­­­­­asal Jogja, Hip Hop Diningrat mengawali kisah film dokumenter batik ini. Perjalanan dimulai dari Pekalongan, salah satu yang terekam adalah batik Oey Soe Tjoen di daerah Kedoengwoeni.

Membatik merupakan keahlian turun temurun. Begitu juga yang dialami oleh Widianti Widjaja. Wanita keturunan Tionghoa itu mewarisi beberapa pekerjaan batik yang belum diselesaikan oleh mendiang ayahnya. Awalnya dia sempat kesulitan, namun akhirnya batik benar-benar membuatnya jatuh cinta. Oleh karena itu sebisa mungkin dia membatik.

Untuk mengerjakan selembar kain batik dengan motif tertentu, dibutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan kadang lebih dari setahun. Dalam film digambarkan bahwa dia menggunakan tangannya sendiri (tanpa sarung tangan) saat proses pengobatan untuk mewarnai kain batik. Padahal obat batik itu kadang membuat alergi pada kulit yang sensitif.

“Saya nggak pakai sarung tangan untuk melihat kelendiran dari obatnya,” ujar  Widianti dalam sebuah adegan di film ‘Batik, Our Love Story’.

Perjalanan berlanjut ke Cirebon yang sangat terkenal dengan motif Mega Mendung-nya. Dari Cirebon, kisah mengarah ke Madura yang terkenal dengan batik berwarna cerah seperti warna merah.

Layar pun berganti ke kota Jogja, lagi-lagi tembang milik Hip Hop Diningrat terdengar. Tembang yang dipakai kali ini adalah ‘Jogja Istimewa’. Nia mencoba untuk menampilkan batik yang juga dipakai oleh warga keraton. Beberapa koleksi batik yang terdapat di Museum Batik Jogja mungkin akan membuat Anda berdecak kagum mengingat usianya yang sudah ratusan tahun.

Setelah itu, kediaman Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian), juragan batik Sekar Kencana sekaligus tokoh Lasem menjadi tujuan Nia Dinata. Dengan fasih, lelaki yang usianya lebih dari 80 tahun itu bercerita tentang berbagai motif batik dan asal mulanya.

Didampingi oleh istrinya, Marpat Rochani, dia bercerita bahwa usaha batik itu adalah warisan sang ayah, Njo Wat Jiang. Lasem mengalami masa keemasan batik ketika kota ini masuk lima besar kota batik di Indonesia bersama Pekalongan, Yogyakarta, Surakarta, dan Banyumas. Industri batik Lasem hilang karena bahan untuk membatik hilang di pasaran. Impor susah sementara kain, malam (lilin) dan pewarna tidak ada.

Di akhir cerita, tampak beberapa anak kecil sedang dilatih untuk membatik. Mereka dilatih oleh pemilik Sanggar Jeruk Srikandi, Lasem. Dari beberapa kisah yang terekam dalam dokumenter ‘Batik, Our Love Story’ terungkap bahwa mereka, para pekerja batik ini hidupnya masih memprihatinkan. Usaha keras mereka untuk mempertahankan batik tergambar dalam film berdurasi 70 menit ini.

Persoalan regenerasi, juga menjadi masalah utama dalam mempertahankan batik. Selain sebagai bahan edukasi, mengingat Nia juga memasukkan berbagai motif batik dan cara membatik, film dokumenter ini juga bisa digunakan sebagai masukan yang baik bagi pemerintah Indonesia.

Tak hanya tenaga fisik yang diperlukan pembatik untuk membuat selembar kain batik. Kelihaian memainkan canting memang salah satu faktor agar batik yang dihasilkan bisa sempurna. Yang terpenting, cinta mereka terhadap batik-lah yang terus membuat para pembatik ini semangat mengerjakan lembar demi lembar kain batik.

Film ‘Batik, Our Love Story’ dirilis menjelang hari batik yang jatuh pada 2 Oktober. Meski tak diputar untuk umum, namun ‘Batik, Our Love Story’ bisa ditonton secara gratis sesuai permintaan Anda.

•sumber : VIVAnews Maya Sofia, Gestina Rachmawati

Read Also
Advertisement

Leave a Reply