Indro Warkop: Pelawak Harus Pandai0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 15 Oct 2011 at 7:32pm
indro_warkop_075

indro_warkop_075

Masih ingat kata-kata “Jangkrik, Bos”? Adalah Warkop DKI, grup lawak yang sukses mempopulerkan kata-kata itu lewat film ‘Chips’ pada 1982. Tak hanya “Jangkrik, Bos”, grup ini sukses membuat idom lain seperti, “Mana Tahaaan…” dan “Gengsi Dong”.

Warkop DKI, yang dulu beranggotakan Dono, Kasino, Indro adalah legenda komedi di tanah air. Mereka dulu adalah mahasiswa yang melawak di Radio Prambors, lewat acara Obrolan Santai di Warung Kopi. Mereka adalah Nanu Mulyono (Nanu), Rudy Badil (Rudy), Wahjoe Sardono (Dono), Kasino Hadibowo (Kasino) dan Indro. Nanu, Rudy, Dono, dan Kasino adalah mahasiswa Universitas Indonesia. Sedangkan Indro, mahasiswa Universitas Pancasila.

Dalam perjalanannya, grup ini lepas dari Radio Prambors, dan mulai tampil di panggung dengan nama Warkop. Rudy tak lagi bergabung, soalnya dia demam panggung. Nanu meninggal pada 1983 karena sakit. Jadilah Dono, Kasino, dan Indro muncul dengan nama Warkop DKI, singkatan nama mereka bertiga.

Terkenal cerdas dalam melucu, kelompok ini cepat menjadi idola anak muda masa itu. Joke-nya segar, dan biasanya agak ‘nyerempet’, kalau tidak porno, pasti sedikit politis. Mereka juga merajai film komedi Indonesia sepanjang hampir dua dekade, dari awal 1980 sampai akhir 1994. Film pertamanya adalah Mana Tahan (1979), terakhir Pencet Sana Pencet Sini (1994). Setelah film nasional lesu, mereka masih tampil di televisi.

Bulan lalu, persisnya 23 September 2011, Warkop genap berusia 38 tahun.  Personilnya hanya tinggal Indro. Kasino meninggal 1997, dan lalu disusul Dono pada 2001. Warkop pun mulai redup, diganti oleh grup lawak baru lainnya. Tentu menarik mengenang kembali grup lawak itu lewat personilnya yang terakhir, Indro.

Indro kini sibuk dengan motor besar kegemarannya, dan juga kerap menyapa fans lewat Twitter @Indro_Warkop. Pengikutnya di media sosial itu nyaris 80ribu orang.  Lalu, apa kata Indro soal Warkop, dan perkembangan komedi Indonesia saat ini? VIVAnews menemui Indro di rumahnya, Jalan Kayu Putih Tengah, Jakarta Timur, dua pekan lalu. Berikut petikan obrolan itu:

Warkop kini 38 tahun. Apa yang Anda rasakan?

Ini kan masalahnya aku nge-tweet, semua orang pada tahu. Kalau aku nggak nge-tweet orang nggak pada tahu.  Tanggal 23 September itu baru ketahuannya beberapa tahun yang lalu, hanya Rudy Badil yang tahu. Aku kan nggak dari pertama. Mereka ingatnya September. Lalu dihitung-dihitung, oh 23 September. Bukan dari zaman film, tapi pertama.

Warkop pertama itu bertiga, Rudy Badil, Kasino, dan Nanu. Dono masuk 1974 dan saya masuk 1976. Saya masih kelas 3 SMA. Perjalanannya Badil jadi sutradara, pengatur laku, termasuk yang menentukan pengarahan kepada kita, kita ngomong apa. Kita topiknya ini, sindiran kita ke sana, pertanggung jawaban moralnya seperti ini. Itu dipikirkan semua.

Buat akun Twitter dari kapan?

Dari ramai saja, sekitar 2-3 tahunan. Saya juga bikin Facebook.

Salah satu alasan buat akun Twitter?

Sekarang setelah ada Friendster, Facebook, Twitter, saya bisa berkomunikasi dengan sahabat-sahabat Warkop lebih intens lagi. Kenapa saya perlukan itu? Karena Warkop begitu. Warkop nggak akan besar kalau nggak ada kalian. Itu bukan lips service. Itu kami.

Arti usia 38 tahun bagi Warkop?

Sebetulnya keinginan Warkop adalah kita ingin selalu punya arti. Kita nggak ingin cari duit. Kalau ingin cari duit kita sudah dari dahulu. Kita bisa sepuluh film per tahun. Tapi kita nggak. Warkop hanya dua film. Kenapa Warkop terkenal sebagai grup pentas yang kritis? Kita selalu punya tema. Tahun ini temanya apa, tahun ini temanya apa. Dan salah satu tema yang pernah kita lontarkan adalah sudahi serakahisme. Semua pejabat semua orang kaya jadi serakah.

Kedua, sehebat apa kita bisa membuat sebuah hiburan yang bisa terjaga dengan sesering  mungkin. Walaupun ide ceritanya Warkop bukan dari Warkop, tapi kan Warkop terlibat habis di situ, all out di situ. Untuk jadi skenario bisa sepuluh kali kita bacain. Walau ini sebetulnya film kerja kolektif, tapi orang di luar sana tahunya ini Warkop. Seperti, kenapa sih Warkop selalu pakai wanita seksi. Aku senang benar dapat pertanyaan begitu.

Kenapa senang dapat pertanyaan seperti itu?

Saya pertanyakan kembali. Kenapa tanya ke Warkop sementara semua film seperti itu. Karena hanya Warkop yang mereka tonton. Kadir Doyok nggak pake seksi? Kita ke luar negeri dari zaman Charlie Chaplin semua selalu pakai cewek seksi, sesuai dengan zamannya. Tapi kenapa hanya Warkop? Sebegitu besar Warkop, sehingga orang hanya melihat Warkop. Padahal itu kerja kolektif. Keputusan untuk ada cewek seksi bukan Warkop. Dia pakai pakaian seksi, memang kita bagian wardrobe?

Menengok ke belakang mengenai sejarah Warkop. Bisa diceritakan sedikit bagaimana Warkop bisa sukses?

Ini secara fisik dahulu. Kalau saya bicara intrinsik, nominalnya jadi nggak enak. Satu, kita kerja keras banget. Warkop itu sebelum masuk rumah orang, kita survei dahulu, orang apa Islam atau Kristen. Kalau Islam, salam lah kita. Itu saja sebetulnya.

Begitu masuk ke film kita juga begitu. Apa film ini? Oh film, secara kepemilikan ini miliknya menengah bawah film nasional. Oleh karena itu kita pilih apa nih model-model lucuannya. Film itu sebetulnya kerjanya bagaimana. Oh kolektif. Kalau panggung kita sebelumnya sudah tahu, learning by doing. Ilmunya film apa sih? Oh ternyata disiplinnya skenario. Beda sama panggung.

Jadi hal-hal kayak gitu kita pelajari benar sampai menentukan deal. Kita terima. Pada saat itu idealisme kita masih kuat banget, kami lulusan mahasiwa nih, universitas, akademisi. Kita nggak mau sembarangan. Semua ada dalam pemikiran. Kalau toh nanti kita jual es puter yang konon katanya orang kampung saja, bukan es krim Häagen-Dazs. Ya itulah yang sudah kami pikirkan. Walaupun menurut kami es puter dan Häagen-Dazs bukan sebuah kelas, tapi warna.

Bahkan 10-15 film pertama kita survei setiap diputar. Saya di Manado, mas Dono di Makassar, terus aja bergantian. Kita ingin tahu ketawanya dimana, selera penonton seperti apa. Akhirnya apa, insya Allah kita punya arti bagi penulis, penulis yang nggak bisa tampil tapi dia handal menulis. Karikaturis juga karena kita bahannya tidak hanya selalu verbal, tapi kartun.

Saat bermain film, apakah Warkop melakukan improvisasi?

Untuk sampai skenario baku, kita bisa sepuluh kali. Kalau paling top, paling keren, empat kali cukup. Pertama, kalau boleh saya cerita, skenario kita pegang dan dibagi ke Kasino, Indro, dan Dono. Kita baca sendiri-sendiri. Ada ide apa tuangkan di situ. Catat. Nanti kita bicarakan. Kita sudah satu nih, bukan hanya idenya Indro, Dono, dan Kasino, tapi Warkop. Itu improvisasi pertama. Karena apa? Karena film disiplinnya di skenario. Itu perlu pemahaman. Jangan lupa film adalah kerja kolektif, bukan hanya Warkop saja. Itu kerja keringat orang banyak di dalam seluloid.

Kedua, improvisasi di lapangan bisa. Cuma harus kita lihat seperti apa, kita harus janjian sama sutradara. Tetap kolektif, tapi on the spot. Nggak bisa kayak di panggung, nggak usah ngomong sama siapa-siapa kita improvisasi sendiri. Tapi di film, kita harus janjian dahulu. Kita janjian pada yang punya disiplin, yang memimpin, director. Janjian lagi sama bintang lain yang berhubungan sama kita. Supaya nggak kaget di lapangan.

Kata-kata seperti “Jangkrik, Bos” dan “Gila, lo Ndro” itu idenya dari mana?

Jujur saja itu sengaja kita cari. Untuk tahu sebetulnya kita ditonton atau nggak dan melekat atau nggak. Ditonton mungkin ditonton. Tapi melekat atau nggak kalau kita melontarkan idiom dan dipakai. Itu terjadi pada film pertama, ‘Mana Tahaaan…’ Kemudian orang semua ngomong, “Mana Tahan” Lalu, “Gengsi Dong”, dan “Emang Gue Pikirin.”

Idiom paling favorit?

Semua sih. Cuma mungkin bukan favorit, tapi menjadi selalu kita ingat adalah “ Mana Tahan.” Semua orang pakai itu. Sama seperti soal hukum. Dua kali saya liat orang DPR bilang ”Hukum itu artinya Harus Utamakan Keadilan Untuk Masyarakat.” Kata-kata itu punya Warkop, nggak ada di pelajaran hukum. Itu Warkop yang bikin. Ada kasetnya, ‘Pengen Melek Hukum’. Kebetulan itu pribadi saya yang bikin, jadi saya ingat banget. Idiom Warkop nih. Pada saat itu kita memang sudah mulai merasa tidak ada keadilan dalam hukum. Dan aku membuat hukum menjadi sebuah akronim.

Pernah berantem di antara sesama anggota Warkop?

Pernah. Mas Kasino dan mas Dono itu nggak ngomong tiga tahun. Saya juru bicara di antara mereka berdua. Kalau di depan orang sih ngomong, tapi seperlunya saja. Tapi nggak ada yang tahu, istrinya saja nggak tahu.

Masalahnya sifat. Tidak ada satupun keributan di dunia yang tidak karena sifat. Sifat serakah misalnya, suatu negara kapitalis yang ingin menguasai negara lain, kemudian terjadilah perang. Kalau mas Kasino itu sifatnya bos banget. Dia tuh semuanya tertata. Strategi pemasarannya, seperti apa kita harus bersikap, penentuan harga. Makanya sampai sekarang Warkop itu nggak punya musuh.

Kasino menghitung. Itu Kasino. Dono, dia seniman banget. Dia dosen, orang yang suka berbagi. Nggak ada hitung-hitungannya. Dia kalau lagi meledak-meledak, ya meledak-meledak. Sementara kalau Kasino bilang, “Distop dulu nih. Film kita setahun dua kali. Elo punya ide apa jangan main buang-buang. Habis bahan kita.” Ini istilahnya yang paling kuat ya. Bahwa mas Dono itu seniman dan Kasino pengusaha. Nggak ketemu dong. Kalau pengusaha menguasai seniman, merasa kita dikuasai kapitalis. Sementara pengusaha nggak bisa dikuasai seniman.

Tapi betapa mas Kasino sadar betul dia di Warkop menjadi seperti ini, tidak ada apa-apanya tanpa Dono dan Indro. Dono juga dengan segala kesadaran tidak ada apa-apanya tanpa Kasino dan Indro. Apalagi Indro, gue masuk paling belakang. Masih SMA pula masuknya. Lebih banyak belajar di Warkop ketimbang menentukan sesuatu. Itu kehebatan Warkop. Kenapa Warkop itu solid karena Warkop betul-betul mikir.

Kasino waktu ribut sama Dono tiga tahun, sampeyan jelekin Dono di depan Kasino, Kasino marah. Jangan jelekin Dono depan Kasino atau sebaliknya. Marah tuh dua-duanya. Padahal mereka lagi diam-diaman. Adalah nggak fair orang mesti tahu juga prosesnya bagaimana kita pakai marahan. Bukan mau ngumpetin. Tapi adalah tidak fair orang tahu kita seenak-enaknya. Sementara kita menghasilkan sesuatu.

Makanya menurut saya, mohon maaf saya menempatkan dari luar. Kenapa Warkop sebesar itu, kenapa sih sekarang dibilang legend? Ya karena tidak ada satupun langkah Warkop yang tidak dipikirkan, yang tidak dipertanggung jawabkan. Semua bisa dipertanggungjawabkan, semua direncanakan. Semua dibuatkan strategi, taktik. Semuanya itu kita singkat menjadi sebuah hal yang namanya profesional.

Sering kangen dengan Dono dan Kasino?

Selalu. Apalagi kalau lagi sibuk kayak gini. Tinggal sendiri. Kangen itu wujud akhirnya rasa terimakasih saya sama Tuhan. Sekarang saya sudah cacat. Kalau tadinya bertiga, sekarang tinggal sendiri. Berarti tinggal sepertiga badan saya. Tapi kalau sekarang saya masih eksis, luar biasa kasih sayang Tuhan kepada saya.

Bagaimana hubungan dengan anak-anak Dono dan Kasino?

Kalau berhubungan dengan Warkop saya selalu minta izin sama anak-anak mereka. Dan kita buat Lembaga Warkop isinya itu anak-anaknya Warkop, anak mas Dono, mas Kasino, dan anak saya. Dan mereka yang kelak akan memegang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) kami. Kalau sekarang masih belum bisa karena masih ada saya. Nggak bisa dihibahkan. Dan sampai sekarang saya konsisten saya minta izin mereka selama itu mengenai Warkop.

Saya alhamdulillah masih bisa memonitor pertumbuhan mereka. Mereka menjadi orang yang saya yakini bisa mandiri. Terutama untuk anak-anak mas Dono, karena tanpa Bapak-Ibu. Alhamdulillah mereka menjadi orang sukses. Anak ke-2 mas Dono sekarang di Swiss, dapat beasiswa untuk Teknik Nuklir. Hebat sekali, saya bangga. Mereka memanggil saya bapak, itu membuat janji saya kepada mas Dono harus tercapai. Saya bilang, “Pokoknya nggak usah takut, gue tahu keluarga elo hebat. In case ada sesuatu. Anak gue makan, anak elo makan. Anak gue sekolah, anak elo sekolah.”

Apakah ada dari anak-anak yang akan meneruskan karier di dunia komedi?

Seni itu jujur banget. Kalau mereka nanti punya skill silahkan. Tetapi Warkop tetap tidak tergantikan. Contoh Kartika, anaknya Affandi. Pernah sebesar Affandi? Seniman nggak tergantikan.

Dunia komedi terus berkembang. Bagaimana Anda melihat dunia komedi saat ini?

Kalau boleh terus terang ini sebuah keprihatinan bukan pencemoohan. Ini pernah diamini seorang guru besar, saya nggak berani sebut nama. Oleh karena itu sebelum masuk ke profesionalisme kita terjemahkan dulu arti profesional apa. Ternyata salah satunya adalah tanggung jawab kepada klien, kepada kita sendiri, keluarga, kepada lingkungan karena kita ingin punya arti. Dan satu hal paling penting tanggung jawab kepada Tuhan. Karena ini tidak kita rencanakan, ini tidak datang melalui sebuah persiapan. Ini datang seperti anugerah.

Sekarang sudah semakin sporadis dan hal-hal  yang mohon maaf, tidak ada dalam genre komedi. Kalau toh ada lebih pada black komedi, sarkas, kasar. Pukul-pukul styrofoam. Bukan berarti tidak sah, tapi apakah ada bobotnya. Sedapat mungkin kita ingin punya arti. Saya manusia biasa mungkin saja salah. Tapi ada kemunduran secara kualitatif dan kualitas ketimbang dahulu. Mohon maaf sekali lagi kalau saya salah.

Saya lihat ada satu grup yang punya warna sendiri. Kalau puasa tampil di sebuah televisi. Insya Allah mereka bertiga punya warna sendiri, konsisten. Gue nggak mau sebut namanya, takut kecewa. Gue kenal semua dan gue support. Saya ingin mereka bisa mengambil yang bagus dari Warkop. Ada jeleknya kok Warkop dan semoga dia bisa ambil yang bagusnya. Mereka punya warna yang jelas, kental dan konsisten. Karena seni itu jujur, seni butuh konsisten. Orang selalu bilang, komitmennya yang kuat. Untuk mendukung komitmen, konsistensi dahulu.

Komedian sekarang punya gaya lawakannya sendiri. Tukul dan Sule, misalnya. Apa pendapat Anda soal gaya lawakan mereka?

Menurut saya orang per orang ada keinginan untuk cerdas. Saya melihat Tukul, walau orang mindset beda, saya melihat ada walaupun akhirnya seperti itu kemasannya.

Di industri komedi sekarang, gaya lawakan seperti itu akan bertahan?

Akhirnya menjadi temporer. Saya bukan menyombongkan Warkop. Ini penilaian pribadi saya terhadap sebuah produk. Saya pikir tidak bertahan lama.

Kesulitan jadi pelawak?

Menjadi pandai. Bukan pintar ya. Kesulitan utama jadi pandai karena pelawak harus pandai banget. Bagaimana dia bisa menyerap bahan-bahan yang ada di lingkungan untuk dia lontarkan. Itu belum tentu harus berpendidikan formal loh. Jangan dianggap bentuk kesombongan Warkop, mentang-mentang semuanya akademisi.

Apa impian terbesar Warkop yang belum terwujud hingga saat ini?

Impian terbesar membuat buku. Itu sudah terwujud. Tadinya begini, memang di kita sendiri pro dan kontra. Mas Dono ingin membuat buku. Kita menghadiri peluncuran buku dan dihadiri Cak Nun. Lalu Cak Nun membahas kenapa seseorang membuat buku autobiografi.  Ada dua, nggak tahu jokes atau teori.

Satu, seseorang sudah almarhum perlu dikenang karyanya oleh generasi penerus supaya bisa diteruskan, atau setidaknya jadi motivasi untuk berkarya lebih hebat lagi. Kedua, buku untuk mengangkat diri sendiri. “Waduh,” Dono bilang. Padahal Dono sudah ingin buku. Sampai akhirnya maju mundur. Tapi makin lama saya diminta semua orang bikin buku Warkop.  Mereka bilang generasi sekarang tahunya Warkop pemain film, nggak tahu kalau pejuang, kritikus, kelompok mahasiswa pertama yang ngelawak, kritik sosial.

Aku masih berpikir kuat bahwa ini salah langkah nggak kalau gue bikin buku. Takutnya karena nila setitik rusak susu sebelanga. Aku ngomong sama Badil karena dia founder. Bertahun-tahun aku menunggu Badil. Sampai tahun 2009, aku selesai sinetron, dia (Badil) telepon aku. “Ndro jadi elo bikin buku.” “Jadi dong Beh.” “Kita bikin Ndro.”

Berapa lama proses pembuatan buku ‘Main-main Jadi Bukan Main’?

Hampir satu tahun. Dari mulai ketemu awal sampai menentukan ide segala macam.

Sudah berapa eksemplar buku yang terjual?

Dua minggu pertama saya sudah dipanggil untuk cetakan kedua. Yang pertama sudah 6.000.

Pesan untuk para komedian sekarang?

Berkaryalah sebaik mungkin. Kita sebagai seniman, kita dilihat untuk ditiru. Kalau kita bisa cari duit dengan berkah, lakukanlah. Kehormatan itu akan datang dengan sendiri, bukan di-create. Jadilah komedian yang jujur dan pandai serta membuat orang lain bahagia.

sumber : VIVAnews Maya Sofia, Beno Junianto

Read Also
Advertisement

Leave a Reply