Jupe Jumpalitan di Pacitan0 Comments

By ZonaSelebriti.com
Posted on 12 Apr 2010 at 2:20pm
Julia Perez

Julia Perez

Dahulu, tak banyak yang tahu Pacitan. Sebagian yang kenal pun hanya mengingat kabupaten paling barat Jawa timur ini sebagai gudangnya gua dan bebatuan. Pacitan baru terkenal setelah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mencalonkan diri sebagai presiden dan akhirnya terpilih.

Kini, Pacitan kembali menghiasi pemberitaan beragam media secara nasional setelah Jupe ingin bersaing dalam pemilukada kabupaten itu, Desember mendatang. Berita makin hangat karena Pacitan juga diminati oleh Sarah Azhari dan Cici Faramida, meski kemudian dua artis itu undur diri.

“Ini panggilan hati saya sebagai anak bangsa untuk turut membangun negeri ini. Niat baik saya itu lantas ada yang mendukung, ya saya pergunakan sebaik mungkin,” ujar Jupe saat dihubungi via telepon, kemarin.

Kontroversi langsung merebak. Banyak yang tercengang dengan niat Jupe ini. Mayoritas langsung mempertanyakan kapabilitas Jupe dalam memimpin kabupaten yang berbatasan dengan Samudera Hindia itu.

Salah satunya diwakili Jaleswari Pramodyawardhani yang dengan sarkas bertanya, “Banyak daftar perempuan hebat, bisa tanya Cetro, misalnya. Kenapa harus artis seperti itu yang dimajukan?”

Peneliti gender di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu tak habis pikir tentang motivasi si artis maupun tim pendukungnya. Apalagi, parpol pendukung Jupe mencapai 8 parpol

Menurut Jaleswari, mengelola pemerintahan daerah membutuhkan keterampilan organisasi, pengetahuan dan kepedulian yang tinggi yang ia ragu dimiliki oleh Jupe dan sejawatnya.

“Memimpin daerah harus bernegosiasi dengan pengusaha, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Apakah artis yang belum punya pengalaman organisasi bisa melakukannya?” lanjutnya.

Memang, Jaleswari mengakui hak Jupe dan artis lainnya untuk dicalonkan dalam Pilkada. Tapi ia mengingatkan para artis agar tidak sewenang-wenang menggunakan haknya bila tidak memenuhi syarat menjadi pemimpin.

“Parpol juga harus bertanggung jawab. Jangan hanya mengejar kekuasaan semata dan menjadi pragmatis. Dampak ke depannya juga harus dipikirkan,” tegas ibu dua anak itu.

Tak hanya pengamat, politisi pun berpendapat serupa. Mantan anggota DPR dari PAN, Alvin Lie menuding majunya Jupe hanya akal akalan parpol saja. “Ujung-ujungnya cari duit,” tegasnya.

Sama dengan Jaleswari, Alvin pun menegaskan bakal calon kepala daerah harus memiliki jejak rekam yang bagus dan partisipasi di organisasi dan kemasyarakatan.

“Karena itu parpol yang memanfaatkan selebritis jelas merupakan parpol yang tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Mereka mengutamakan “gizi“ (uang, Red.) daripada visi dan misi,” kata pria yang kini Pimred Jurnal Parlemen itu.

Jupe bukan tidak sadar dirinya menjadi sorotan terutama karena penampilannya yang “berani”. Dia pun berjanji akan mengubah sedikit penampilannya.

“Untuk jadi bupati, Jupe harus berubah,” katanya dalam jumpa pers di sebuah mal di Bekasi, pekan ini. “Kalau dalam konteks bupati, Jupe harus metamorfosis,” lanjutnya.

Lalu, Jupe pun merinci metamorfosis yang dimaksudnya: berpakaian tertutup dan tidak nyablak (asal omong) lagi.

“Jupe sadar di dunia politik nanti Jupe harus menjadi contoh bagi masyarakat Pacitan, » katanya.

Menurut pemain yang muncul di Sinetron “Maafkan Aku”, “Kejar Maya”, “Rahasia Ilahi”, “Hidayah”, “Mimpi Manis”, dan “Perempuan Teraniaya” ini, kehadirannya di kancah politik justru menguntungkan bagi masyarakat. Alasannya, mereka sudah tahu kebaikan dan kejelekan Jupe sepenuhnya. Dengan begitu, memilihnya gampang.

“Yang pasti Jupe maju dan berjuang demi hati nurani,” kata selebritis bernama asli Yuli Rachmawati ini. “Memang banyak masa lalu Jupe yang buruk, (namun) bukan menjadi beban buat Jupe. Jupe membuktikan Jupe bisa,” lanjut janda kelahiran Jakarta, 15 Juli 1980 ini.

Untuk membuktikan niatnya itu, lulusan D1 Bahasa Belanda dan D1 Bahasa Prancis itu berjanji akan sering turun ke bawah mempelajari kehidupan rakyat Pacitan. “Untuk jadi bupati, Jupe harus tahu maunya masyarakat. Banyak yang harus Jupe bangun, pertanian, budaya, seluruhnya. Bagaimana Pacitan ini maju,” ujarnya berpromosi.

Diakui pemilik album “Kamasutra” itu, bersaing di Pacitan tidak akan mudah. Selain harus mengalahkan para pesaingnya, Jupe juga “terbebani” oleh status Pacitan sebagai kota kelahiran SBY.

“Aku nggak mau malu-maluin kota Pacitan. Jupe memang ingin memajukan kota Pacitan,” katanya.

Jupe sendiri mengaku dipinang delapan parpol untuk maju. Namun, dari delapan parpol yang diklaim itu, PAN sudah resmi menolak Jupe.

Setidaknya ada dua alasan PAN tidak mengusung artis bertubuh seksi itu. “Pertama, Saudari Julia Perez bukan kader partai. Seorang calon pemimpin daerah harus mengetahui platform, ideologi, dan garis perjuangan partai,” kata Viva Yoga Mauladi, Ketua DPP PAN yang juga Koordinator Wilayah Pemenangan Pemilu Jawa Timur, secara tertulis ke VIVAnews, grup Surabaya Post.

Alasan kedua, PAN sedapat mungkin akan mempertahankan format koalisi partai yang terjadi di level pusat agar juga menjadi konfigurasi di daerah. Sementara itu, Julia Perez pertama kali ditawarkan Partai Hati Nurani Rakyat, bukan salah satu partai yang bergabung dalam pemerintahan seperti halnya PAN.

Hingga saat ini, kata Viva, DPD PAN Pacitan dan DPW PAN Jatim belum menerbitkan surat keputusan pencalonan Jupe. “Jadi, tidak benar ada pencalonan Saudari Julia Perez di Pilkada Kabupaten Pacitan oleh PAN,” ujar Viva.

Sejauh ini memang baru Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) yang secara terbuka menyatakan mendukung Julia Perez sebagai calon Wakil Bupati Pacitan. Hanura menyatakan akan menggalang koalisi delapan partai untuk mengusung Jupe. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang diajak Hanura menyatakan terbuka dengan pencalonan Jupe, namun belum secara resmi menerima ajakan untuk mengusung Jupe.

Namun, bagaimana pun gonjang ganjing parpol, Jupe sepertinya tetap bersiap maju. Hal ini, kata dia, karena keinginannya untuk berbakti.

“Justru saya tertarik ingin membangun bangsa dari daerah terpencil. Makanya kalau ditanya kenapa Jupe baru ikut Pilkada sekarang dan itu di Pacitan, karena saya melihat sebenarnya banyak potensi di Pacitan, tapi belum tergali secara maksimal. Nah saya ingin membantu itu, terutama di sektor pariwisata dan ekonominya,” ungkap Jupe.

Hal berbeda dikatakan Cici Paramida. Pedangdut yang belum lama menjanda ini menolak menjadi balon wakil bupati Pacitan demi fokus kepada pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta. Namun, dirinya tak menampik jika dua bulan yang lalu dirinya pernah menerima tamu tim sukses dari Pacitan.

“Seputar adanya pencalonan Wabup Pacitan, pada saat ini saya ingin memberikan klarifikasi bahwa saya pernah menerima tamu. Itu tim sukses dari Pacitan yang ingin mengusung saya jadi Bupati atau Wabup Pacitan, tapi saya mengatakan ketidaksiapan saya,” ujar Cici di kantor pengacaranya.

Pelantun “Bulan Merindu” ini juga merasa keberatan jika disejajarkan dengan artis lain yang menyatakan kesediaannya untuk terjun ke dunia politik. “Tawaran memang sudah banyak, tapi saya mau fokus pada pendidikan S2 saya,” imbuhnya.

Sama dengan Jupe, Cici juga mengaku sempat dipinang tujuh parpol. Bagi Cici, terjun ke dunia politik itu tidak mudah. Perlu pendalaman dulu soal wilayah daerah tersebut dan juga aspek-aspek lainnya. “Saya tak takut bersaing dengan Jupe. Hanya, saya lebih suka eksis dengan karier menyanyi daripada memikirkan politik yang belum saya pahami betul,“ tegasnya.

Selain Jupe dan Cici, nama dua artis bersaudara Ayu Azhari dan Sarah Azhari juga sempat dikabarkan akan meramaikan bursa penjaringan yang digelar sejak awal Maret lalu. Namun, keduanya lantas mengundurkan diri.

Versi Sutikno, Ketua DPC Hanura Kabupaten Pacitan, Sarah mundur dengan alasan merasa tidak nyaman karena harus bersaing dengan kakaknya, Ayu Azhari. Sementara Ayu sendiri, akhirnya juga ikut mundur dengan alasan masih trauma kegagalannya dalam bursa Pilkada Sukabumi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

“Sarah nggak enak karena bersaing dengan kakaknya, Ayu juga mundur karena sebab tertentu,” ucap Sutikno.

Ia menambahkan, penjaringan yang dilakukan di Jakarta tersebut hanya khusus untuk posisi calon wakil bupati. Sementara untuk posisi calon bupati, saat ini masih dilakukan penjaringan tersendiri di tingkatan lokal, Kabupaten Pacitan. Untuk sementara ini, lanjut Sutikno, setidaknya sudah ada tiga nama bakal calon bupati yang mendaftarkan diri melalui koalisi Ampera.

Mereka adalah Lurah Bangunsari, Kecamatan Bandar, Sudarno; Kepala Dinas Kelautan dan Perikananan (DKP) Kabupaten Pacitan, Indartarto ; serta Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pacitan, Suyantoro.

sumber: Ary Nugraheni• VIVAnews

Read Also
Advertisement

Leave a Reply